• Jelajahi

    Copyright © Pena Kita
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    BRI Soe Belum Merespon Para Nasabah Terdampak Bencana

    Rabu, 26 Maret 2025, Maret 26, 2025 WIB Last Updated 2025-03-26T15:37:41Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Timor Tengah Selatan, penakita.info

    Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Soe dalam membantu nasabah yang terdampak bencana longsor di Desa Kuatae, Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menemui kendala.Pimpinan cabang BRI Soe disebut sedang “Zoom" dan tidak dapat memberikan keterangan saat dimintai konfirmasi pada Selasa (26/3/2025).



    Sebelumnya, wartawan telah mengikuti prosedur resmi dengan mengisi buku tamu di kantor BRI Soe dan menunggu beberapa saat. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban terkait kebijakan bank bagi nasabah yang kehilangan sumber pendapatan akibat longsor, sekretaris pimpinan cabang justru memberikan pernyataan singkat.



    “Bapak Pimcab sementara Zoom jadi kalau bisa nanti besok baru datang saja,” ujar sekretaris pimpinan cabang.



    Pernyataan tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat, terutama bagi nasabah yang terdampak bencana. Pasalnya, banyak warga Kuatae yang berharap adanya keringanan pembayaran cicilan pinjaman atau kebijakan restrukturisasi kredit dari bank, mengingat longsor telah menghancurkan rumah dan lahan usaha mereka.



    Wartawan juga akan terus berupaya mendapatkan klarifikasi dari pihak bank mengenai langkah konkret yang akan diambil untuk membantu nasabah yang mengalami kesulitan akibat bencana ini. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pimpinan BRI Soe terkait kebijakan yang akan diterapkan bagi nasabah terdampak longsor di Desa Kuatae.



    Diberitakan Sebelumnya: Semuel Isu, menyampaikan keluhannya terkait dampak ekonomi dan sosial yang dialaminya pasca-musibah tersebut. Selain kehilangan tempat tinggal dan usaha, ia masih harus menghadapi beban angsuran bank yang tetap berjalan setiap bulan.



    “Ini kami sudah kena musibah, tapi kami masih terbeban dengan angsuran di bank. Setiap bulan harus mengangsur. Kalau kami masih dikumpulkan di sini (GOR), kami takut juga pas tanggal mengangsur ada kolektor bank datang cari kami, sedangkan tempat tinggal dan usaha kami sudah hancur semua,” ungkap Semuel dengan nada penuh kecemasan saat ditemui awak media di GOR Nekmese Soe, Selasa (25/3/2025).



    Tak hanya itu, Semuel juga mengkhawatirkan masa depan pendidikan anak-anaknya jika mereka harus direlokasi ke tempat baru yang jauh dari sekolah mereka saat ini.



     “Kami juga pikir anak-anak kami yang sementara sekolah, apakah nanti mereka masih bisa bersekolah kalau tempatnya jauh? Kami tidak mungkin kembali lagi ke rumah kami yang sudah rusak,” tambahnya.



    Bencana longsor yang terjadi beberapa waktu lalu telah mengakibatkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan parah, memaksa mereka mengungsi ke Gedung Olahraga (GOR) yang disediakan oleh pemerintah daerah. Namun, kondisi di pengungsian masih jauh dari kata layak, terutama bagi mereka yang kehilangan mata pencaharian dan tetap harus memenuhi kewajiban keuangan mereka.



    Minimnya respons dari BRI Soe membuat para nasabah yang terdampak bencana merasa tidak mendapatkan kepastian terkait kelangsungan pembayaran angsuran mereka. Dalam situasi darurat seperti ini, mereka berharap pihak bank segera memberikan kebijakan yang meringankan, baik dalam bentuk restrukturisasi kredit, penundaan angsuran, atau kebijakan lain yang dapat membantu pemulihan ekonomi mereka.



    Sejumlah warga mengeluhkan minimnya perhatian dari pihak terkait terhadap beban psikologis yang mereka alami. Selain itu, kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, serta dukungan pendidikan bagi anak-anak juga menjadi persoalan utama yang perlu segera ditangani.



    Para korban longsor, termasuk Semuel, berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah dan pihak perbankan terkait kemungkinan keringanan atau penundaan pembayaran angsuran bagi mereka yang terdampak. Mereka juga meminta kejelasan terkait lokasi relokasi agar tidak mengganggu akses anak-anak terhadap pendidikan.



    “Kami hanya berharap ada kebijakan yang bisa meringankan beban kami. Jangan sampai setelah kehilangan segalanya, kami masih harus dipersulit dengan urusan angsuran dan masa depan anak-anak,” pungkas Semuel.



    (Marti Honin)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini