masukkan script iklan disini
Kairo penakita.info
Unjuk Rasa Meluas
Seorang pejabat Palestina dari kelompok perlawanan yang bersekutu dengan Hamas mengatakan, aksi protes diperbolehkan, tetapi bukan kerja sama dengan Israel.
Kelompok-kelompok perlawanan Palestina di Gaza, Kamis (27/3/2025), mengancam akan menghukum "para kolaborator" yang dianggap mendukung kepentingan Israel. Ancaman itu dikeluarkan menyusul aksi protes besar pertama terhadap perang di Gaza dan kekuasaan Hamas di wilayah tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, ratusan warga Palestina menggelar aksi protes di Gaza utara dan tengah. Sebagian dari mereka meneriakkan seruan "Hamas turun". Aksi itu merupakan sebuah perlawanan langka terhadap Hamas yang serangannya ke Israel pada Oktober 2023 memicu perang yang menghancurkan di Gaza.
Dalam sebuah pernyataan, "Faksi Perlawanan", kelompok gabungan yang mencakup Hamas, mengancam akan memberi hukuman bagi para pemimpin "gerakan mencurigakan". Warga Palestina meyakini bahwa "gerakan mencurigakan" itu mengacu pada aksi protes di jalan-jalan dalam beberapa hari terakhir.
"Mereka terus menyalahkan perlawanan sambil membebaskan pendudukan (Israel) dari tanggung jawab, tanpa menghiraukan bahwa mesin pemusnah Zionis terus bekerja tanpa henti," demikian pernyataannya Faksi Perlawanan itu. "Karena itu, orang-orang mencurigakan ini sama bertanggung jawabnya dengan pendudukan (Israel) atas darah yang tertumpah dari rakyat kita dan akan diperlakukan sesuai dengan itu."
Dalam sebuah pernyataan, "Faksi Perlawanan", kelompok gabungan yang mencakup Hamas, mengancam akan memberi hukuman bagi para pemimpin "gerakan mencurigakan". Warga Palestina meyakini bahwa "gerakan mencurigakan" itu mengacu pada aksi protes di jalan-jalan dalam beberapa hari terakhir.
"Mereka terus menyalahkan perlawanan sambil membebaskan pendudukan (Israel) dari tanggung jawab, tanpa menghiraukan bahwa mesin pemusnah Zionis terus bekerja tanpa henti," demikian pernyataannya Faksi Perlawanan itu. "Karena itu, orang-orang mencurigakan ini sama bertanggung jawabnya dengan pendudukan (Israel) atas darah yang tertumpah dari rakyat kita dan akan diperlakukan sesuai dengan itu."
Para pejabat Hamas mengatakan, rakyat memiliki hak untuk berdemonstrasi. Namun, aksi unjuk rasa tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau digunakan untuk melepaskan Israel dari kesalahan atas puluhan tahun pendudukan, konflik, dan pengusiran di wilayah Palestina.
Menolak Perang
Menolak Perang
Beberapa pengunjuk rasa yang dihubungi Reuters mengatakan, mereka turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap perang yang berlanjut. Para pengunjuk rasa itu menambahkan, mereka kelelahan dan kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan dan air.
"Kami tidak menentang perlawanan. Kami menentang perang. Cukup sudah perang, kami lelah," kata seorang warga di wilayah Shejaia, Kota Gaza, yang mengikuti aksi protes pada Rabu, kepada Reuters.
"Anda tidak bisa menyebut orang sebagai kolaborator hanya karena mereka berbicara menentang perang, karena mereka ingin hidup tanpa pengeboman dan kelaparan," tambahnya melalui aplikasi pesan."
Unjuk Rasa Meluas
Video yang beredar pada hari Rabu —yang keasliannya belum dapat diverifikasi— menunjukkan aksi protes di Shejaia di Gaza utara, tempat awal demonstrasi, serta di wilayah tengah Gaza seperti Deir Al-Balah, yang mengindikasikan bahwa aksi protes semakin meluas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berjanji akan melenyapkan Hamas, menyatakan bahwa demonstrasi itu menunjukkan bahwa keputusannya untuk melanjutkan operasi militer di Gaza setelah gencatan senjata membuahkan hasil.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mendesak warga Gaza untuk terus menyuarakan ketidakpuasan mereka.
"Belajarlah dari warga Beit Lahia," tulis Katz di X. Dia merujuk pada aksi protes pertama yang terjadi di Beit Lahia. "Seperti yang mereka lakukan, tuntutlah penghapusan Hamas dari Gaza dan pembebasan segera semua sandera Israel. Hal itu merupakan satu-satunya cara untuk menghentikan perang."
Seorang pejabat Palestina dari kelompok perlawanan yang bersekutu dengan Hamas mengatakan, aksi protes diperbolehkan, tetapi bukan kerja sama dengan Israel.
"Figur-figur mencurigakan itu mencoba memanfaatkan protes yang sah untuk menuntut diakhirinya perlawanan, yang merupakan tujuan yang sama dengan Israel," katanya kepada Reuters melalui aplikasi obrolan. "Kami tidak mengancam rakyat kami, kami menghormati pengorbanan mereka, tetapi ada beberapa figur mencurigakan yang bekerja sama dengan tujuan pendudukan. Mereka ingin membebaskan pendudukan dari tanggung jawab dan merendahkan perlawanan."
Lebih dari 50.000 warga Palestina telah tewas akibat operasi militer Israel di Gaza, menurut pejabat Palestina.
Lebih dari 50.000 warga Palestina telah tewas akibat operasi militer Israel di Gaza, menurut pejabat Palestina.
Serangan itu diluncurkan setelah ribuan pria bersenjata yang dipimpin Hamas menyerang komunitas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Serangan itu menewaskan 1.200 orang dan menculik 251 lainnya sebagai sandera, menurut data Israel. Sebagian besar wilayah sempit di pesisir Jalur Gaza itu kini hancur menjadi puing-puing. Perang juga membuat ratusan ribu orang terpaksa berlindung di tenda atau bangunan yang hancur akibat bom.
Sumber : kompas.com
Sumber : kompas.com