• Jelajahi

    Copyright © Pena Kita
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Misteri Kematian Akseyna Ahad Dori: Satu Dekade Tanpa Titik Terang

    Selasa, 25 Maret 2025, Maret 25, 2025 WIB Last Updated 2025-03-25T03:58:37Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Depok, penakita.info

    Kematian mahasiswa Biologi Universitas Indonesia (UI), Akseyna Ahad Dori sudah menginjak tahun kesepuluhnya sejak ditemukan pertama kali mengambang di Danau Kenanga, Depok pada 26 Maret 2015. 


    Semenjak hari itulah, setiap detik timbulkan pertanyaan di benak keluarga Akseyna tanpa terjawab seutuhnya hingga kini. 


    Kasus kematiannya sempat diduga sebagai kasus bunuh diri sebab barang bukti berupa surat tulisan tangan disebutkan sebagai tulisan korban. 


    Akan tetapi, beberapa temuan seperti hasil visum lebam pada tubuh korban, analisis tulisan tangan pada surat yang menunjukkan itu ditulis dua orang, mengarahkan kejadian itu adalah kasus pembunuhan.



    Tahun demi tahun terus berlalu, keluarga tetap setia menanti pertanggungjawaban dan komitmen aparat keamanan untuk menyelidiki misteri kematian Ace (sapaan akrab Akseyna).



    Sebuah harapan muncul ketika keluarga menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) pada 25 Oktober 2024. 



    Surat SP2HP ketiga menjadi kabar terbaru yang diterima keluarga setelah informasi terkini adalah pada tahun 2022. 



    Di surat itu, polisi menginformasikan mereka telah melakukan pemeriksaan terhadap tiga saksi.



    Namun, para saksi yang dipanggil juga tidak terjamin apakah saksi baru atau lama. 



    “Kami enggak tahu ini saksi baru atau saksi lama yang dipanggil kembali. Kami enggak pernah dapat info dari polisi terkait nama-nama saksi yang sudah diperiksa siapa saja,” ungkap kakak Akseyna, Arfilla Ahad Dori, Kamis (7/11/2024). 



    Oleh sebab itu, Arfilla juga tidak dapat menjamin apakah pemanggilan saksi ini menjadi langkah baru atau pemeriksaan ulang. 



    Diperiksa Apsifor

    Selang tiga minggu kemudian, Arfilla dan ayahnya, Mardoto diperiksa psikolog Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor). 



    “Setelah SP2HP kemarin, saya dan ayah diwawancara untuk pemeriksaan forensik dari Apsifor,” kata Arfilla kepada Kompas.com, Senin (24/3/2025). 



    Pemeriksaan dilakukan secara bergilir, pertama kepada Arfilla di tanggal 16 November 2024. Lalu kemudian kepada Mardoto pada 23 November 2024. 



    Arfilla menceritakan, wawancara dilakukan oleh dua orang psikolog yang menanyakan pertanyaan seputar Akseyna, hingga kondisi psikologis dirinya ketika mendengar kabar duka mengenai sang adik.



    Namun, pihak Apsifor tetap bungkam dan mengaku tidak mengetahui perkembangan kasus kematian yang masih menjadi misteri sejak 2015 silam itu. 



    “Dari Apsifor, saya tanya tidak tahu ke depannya akan gimana karena katanya mereka tupoksinya hanya mengumpulkan data dan hasil untuk diserahkan ke polisi,” ujar Arfilla. 



    “Saya sudah tanya, katanya 'kewajiban kami lapor ke Polres sebagai klien kami', gitu” sambungnya.



    Pencocokan BAP 

    Tak hanya itu, Mardoto juga turut diperiksa ulang melalui pencocokan dengan berita acara pemeriksaan (BAP) terkait kematian anaknya yang terjadi 2015 silam. 



    Sementara Arfilla hanya wawancara mendasar sebab dirinya dulu tidak di-BAP. 



    “Ayah juga sepertinya kurang lebih sama, ditambah ada konfirmasi dan pencocokan dengan BAP. Kalau saya kan tidak di-BAP, tapi tim Apsifor katanya merasa perlu wawancara saya, jadi diwawancara,” ujar Arfilla.



    Pengusutan kasus secara terbuka 

    Mengingat penyidikan kasus Akseyna yang seolah-olah mandek, Arfilla menyarankan penyelidikan terbuka terkait dengan melibatkan publik. 



    Menurutnya, opsi ini mampu membuka pandangan baru atas penyelidikan yang genap berusia 10 tahun. 



    “Audiensi tiga pihak di depan publik kalau perlu, supaya publik juga bisa menilai dan mungkin ikut kasih masukan,” terang Arfilla.


    Terlebih, penyelidikan sudah setiap tahun dipegang oleh pejabat polisi, TKP yang perlu diselidiki tidak terlalu luas, dan melibatkan berbagai ahli forensik dan kriminolog di kampus. 



    Namun, segala ketersediaan ini juga tampaknya tidak mampu menjawab teka-teki kematian Akseyna.



     “Enggak ada satupun yang bisa selesaikan kah? Saya kan jadi bertanya-tanya, bener enggak bisa atau enggak mau?” katanya.




    Komentar

    Tampilkan

    Terkini