• Jelajahi

    Copyright © Pena Kita
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Suara Anak-Anak Menyanyikan "Rindu Rumah" di Tengah Duka Kuatae

    Rabu, 26 Maret 2025, Maret 26, 2025 WIB Last Updated 2025-03-26T04:04:31Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Timor Tengah Selatan, penakita.info

    Malam itu, angin berhembus lembut di Desa Kuatae, tetapi suasana hati warganya tetap berat. Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari sebelumnya telah mengubah desa kecil itu menjadi lautan puing-puing. Rumah-rumah hancur, tanah longsor membawa pergi tempat tinggal mereka, meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.



    Di antara reruntuhan, suara anak-anak terdengar lirih—bukan tawa riang, melainkan isakan tertahan. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga sekolah dan tempat bermain yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka.
    Di tengah duka ini, Yayasan Yusinta Ningsi Sejahtera (YNS) hadir membawa sedikit kehangatan. Dipimpin oleh Yusinta Nenobahan, seorang putri daerah yang meninggalkan kehidupannya yang nyaman di Jakarta, mereka datang bukan hanya sebagai relawan, tetapi sebagai saudara yang ingin berbagi luka. Selama tiga hari di Timor Tengah Selatan (TTS), Yusinta—yang akrab disapa Uchie—berusaha menghadirkan secercah kebahagiaan bagi anak-anak. Ia mengajak mereka bermain, bernyanyi, dan bercanda, mencoba membuat mereka melupakan sejenak kesedihan yang menggantung di hati.



    Namun, kebahagiaan itu hanya sementara. Saat malam tiba, kesedihan kembali menyelimuti wajah-wajah kecil itu. Pada Senin malam, 25 Maret 2025, di GOR Nekmese SoE, anak-anak dari PAUD hingga SMP berkumpul. Bukan untuk bermain, tetapi untuk menyampaikan isi hati mereka melalui surat yang mereka tulis sendiri.



    Satu per satu, mereka maju ke depan, membaca surat dengan suara yang bergetar.
    Bintang Taneo, siswa kelas IX SMP Kristen 3 SoE, menundukkan wajahnya, suaranya nyaris tak terdengar, "Harapan saya setelah longsor ini adalah mendapatkan tempat tinggal yang layak. Tuhan, tolong Desa Kuatae. Saya ingin meninggalkan kenangan pahit ini agar air mata kami tidak lagi jatuh."
    Sri Ayu Lenamah, siswa kelas VIII, mencoba menahan tangis saat menatap Uchie, "Dulu desa kami baik-baik saja. Tapi sekarang, rumah-rumah kami hancur. Saya ingin pemerintah memberi kami tempat tinggal yang nyaman. Saya ingin tinggal bersama keluarga saya tanpa rasa takut."
    Sementara itu, Rifki Ola, siswa kelas IX, berbicara dengan getir, "Saya ingin Desa Kuatae kembali seperti dulu, tempat saya tumbuh dan bermain. Saya ingin kembali ke sekolah seperti biasa. Tolong bantu kami menemukan rumah yang layak."



    Namun, surat yang paling memilukan datang dari Dea Benu, siswa kelas VIII. Dengan suara bergetar, ia mengenang hari-hari sebelum bencana, "Setiap pagi, kami selalu memulai hari dengan doa. Ayah bekerja di pasar, ibu dan kakak di rumah, saya pergi ke sekolah. Semua terasa biasa dan hangat. Tapi 20 Maret 2025, hujan turun deras, tanah mulai bergerak, dan tiba-tiba rumah kami roboh. Kami harus pergi meninggalkan desa kami yang penuh kenangan. Rasanya berat sekali. Kami ingin kembali, tapi kami tahu, tidak ada yang bisa kembali seperti semula."



    Setiap kata yang mereka ucapkan menambah beban di dada siapa pun yang mendengarnya. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya rumah yang aman, sekolah untuk belajar, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti sebelumnya.



    Namun, kenyataan berkata lain. Rumah-rumah mereka telah hancur, tanah tidak lagi kokoh, dan desa yang dulu mereka sebut rumah kini hanya menyisakan kehancuran.



    Di tengah isak tangis, tiba-tiba suasana berubah. Udara yang sebelumnya penuh duka, kini dipenuhi alunan suara lirih anak-anak. Mereka menyanyikan lagu "Rindu Rumah", sebuah lagu ciptaan Wizz Baker yang liriknya begitu menyayat hati.
    "Rindu memaksaku untuk kembali
    Menengok kenangan masa kecilku
    Yang penuh cinta dibalut kehangatan
    Kini aku t'lah jauh berada, Rindu Rumah."
    Awalnya, suara mereka terdengar pelan, penuh keraguan. Namun, semakin lama, suara itu semakin lantang—bukan dalam kebahagiaan, melainkan dalam kepedihan yang mendalam. Beberapa anak mulai menangis, yang lain saling menggenggam tangan, mencoba menahan rasa sakit yang begitu dalam.



    Bulu kuduk meremang, hati terasa sesak. Seolah-olah, melalui lagu itu, mereka sedang berbicara langsung kepada Tuhan, bertanya mengapa bencana ini harus terjadi, mengapa mereka harus kehilangan tempat yang selama ini mereka sebut "rumah".
    Yusinta Nenobahan, yang sejak awal mencoba tegar, akhirnya tak mampu lagi menahan air matanya. Matanya memerah, tangannya bergetar. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa benar-benar menghibur anak-anak ini. Mereka telah kehilangan terlalu banyak, terlalu cepat.



    Di malam yang dingin itu, hanya satu harapan yang tersisa—semoga ada tangan-tangan yang bersedia menolong mereka, agar suatu hari nanti, mereka bisa kembali memiliki tempat yang bisa mereka sebut "rumah".



    (Marti Honin)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini